Senin, 16 November 2009

Resensi Khotbah (SMAK 4)

Resensi Khotbah: Pdt. Adianto Surjadi
 Rendah Hati Disenangi Tuhan
Senin, 16 November 2009


Ester 6 : 1 - 14
Sebuah kisah yang menceritakan Mordekhai, seseorang yang merupakan orang buangan dan tawanan.

Ada beberapa hal yang ia perbuat dan sungguh berharga:
a. Menyelamatkan raja,
b. Menunjukkan kesetiaan terhadap raja, 
c. Menunjukkan jasa kepada bangsa,
    Dan lain-lain.

Fakta menyebutkan:
Jika ada raja yang mati, maka seluruh negeri akan terjadi kegoncangan. Jika ada pergantian raja, maka sebagian besar orang berebut jabatan menjadi raja.

Pada saat Ester dinobatkan sebagai ratu, ia tidak meminta jasa, karena menjadi ratu merupakan panggilan jiwa. Berbeda dengan orang-orang saat ini. Mereka hanya mau mencari upah dan jasa.

Setelah Mordekhai menyelamatkan raja, raja tidak dapat tidur dan memerintahkan agar membawa dan membaca kitab pencatatan sejarah. Dalam kitab itu, tercatat nama Mordekhai yang berupaya membunuh Raja Ahashweros. Setelah itu, Tuhan menggerakkan hati raja untuk memberikan pakaian kebesaran, kuda, dan mahkota yang selayaknya dipakai oleh raja pada umumnya.

Jika ada sesuatu yang kita kerjakan, maka kita harus mengerjakannya.

Mordekhai mendapat panggilan untuk menyelamatkan raja, dan tak ada seorangpun yang berani menegurnya. Artinya, jika kita mendapat panggilan, maka tidak ada seorangpun yang berani menegur kita.

Di dunia ini, banyak sekali orang yang pintar, tetapi kelakuannya agak buruk. Maka, tidak ada gunanya jika orangnya pintar, tapi kelakuannya buruk (sama saja dengan teroris).

Ada beberapa pengertian rendah hati menurut Mordekhai:
a. Mengerjakan sesuatu dengan tulus,
b. Bekerja tidak karena upah, tetapi untuk membangun hidup,
c. Tidak sombong, dan
d. Sabar.

Jika ada seseorang yang telah berjasa, tetapi tidak dianggap oleh seseorang, biarkan saja. Tunggu saja waktunya Tuhan.

Percuma saja jika kita pintar tapi kelakuan kita buruk. Maka dari itu, jangan hormati orang yang pintar tapi kelakuannya buruk, melainkan hormatilah orang yang pintar dan kelakuannya baik.

Resensi khotbah ini dibuat oleh: Michael Lioe, dengan beberapa perubahan.
Naskah asli dapat dilihat di Alkitab Michael Lioe.

Sabtu, 14 November 2009

Selamat, ya!

Seringkali saya melihat ada suatu kejadian, dimana ada seseorang (sebut namanya A) yang mengalami penderitaan. Entah diejek, dicaci-maki, dimarahi, atau yang lain. Tanpa saya duga, orang lain (si B) malah mengatakan, "Selamat, ya!".

Saudara-Saudari yang dikasihi Tuhan YESUS, jika Anda memiliki sifat yang sama dengan si B, berhati-hatilah. Sesungguhnya, iblis sedang berada di dalam diri Anda. Peristiwa tersebut merupakan salah satu sifat iblis, yaitu bersenang-senang atas penderitaan orang lain.

Saudara-Saudari sekalian, berhati-hatilah. Iblis sedang mencari seseorang yang bisa ia jadikan sebagai korban. Korban di sini adalah seseorang yang sifatnya sejenis dengan si B.

Saya mau bertanya sekarang: adakah di antara Saudara-Saudari yang pernah berbuat demikian? Jika ada, minta ampun sekarang kepada Tuhan. Saya yakin, jika Anda meminta maaf kepada Tuhan, Tuhan pasti akan mengampuni dosa Anda, sebab Dialah Yang Maha Ampun. Asal, Anda berjanji dan bersumpah kepada Tuhan dan diri Anda sendiri, bahwa Anda tidak akan berbuat demikian untuk yang kesekian kalinya.

Lalu, kapan ucapan selamat tersebut diucapkan? Ucapan selamat tersebut diucapkan pada saat teman kita sedang mengalami masa-masa yang indah, bersukacita, bergembira. Masa sih tidak bisa membedakan antara orang yang menderita dengan orang yang bersukacita?

Minggu, 08 November 2009

Bikin Hukuman Sendiri (bagian 2)

Pada bagian pertama, saya telah berbicara bahwa orang Kristen tidak boleh tercemar dengan orang dunia, yang suka membuat hukuman sendiri. Sekarang, saya akan memberitahu kepada Saudara-Saudari: siapa saja yang berhak menghukum dan dihukum.

Sebelum itu, seperti yang telah diketahui oleh semua orang Kristen, bahwa Tuhan berada di atas semuanya (di atas manusia, bahkan manusia yang paling pintar di duniapun kalah dengan-Nya). Manusia (saya dan Saudara-Saudari) ditempatkan ke dunia ini. Di dunia ini, kita hanya hidup sementara. Kita semua pasti akan pergi ke Surga atau ke Neraka suatu waktu. Kalau kita lebih sering menerapkan kasih dalam kehidupan sedetik-detik, kemungkinan besar masuk Surga. Sebaliknya, jika kita lebih sering menghukum dengan hukuman buatan kita sendiri, kemungkinan masuk Neraka. Iblis adalah pribadi yang tidak senang akan adanya kehadiran Tuhan. Ia selalu mengintimidasi (menghantui) manusia. Sebagai contoh, ketika kita berbuat salah terhadap seseorang, kita sudah meminta maaf kepada orang itu. Bukannya menerima permintaan maaf, orang itu justru menghukum kita. Nah, hukuman orang itu tentunya merupakan ide dari si iblis (dengan catatan: iblis tidak pernah mengampuni seseorang).

Tuhan berhak menghukum siapa saja yang bersalah. Tapi, jika kita meminta maaf terhadap Tuhan, kita akan menerima kasih dari Tuhan. Masalah hukumannya dilanjutkan atau tidak, itu terserah Tuhan. Tetapi Tuhan tidak akan mengampuni seseorang yang  berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan juga semua jenis setan. Dengan kata lain, setan berhak untuk dihukum secara total oleh Tuhan.

Apa yang saya maksud sesuatu yang tidak berkenan di atas? Sesuatu yang tidak berkenan yang dimaksud adalah ketika kita menghujat Roh Kudus (setahu saya hanya itu). Sebagai tambahan, kalau kita menghujat YESUS, kita masih mendapat pengampunan. Tapi kalau kita menghujat Roh Kudus, kita tidak mendapat pengampunan. Contohnya: menghina bahasa Roh (meskipun banyak bahasa Roh palsu, tapi kita juga harus berhati-hati), meledek manusia dengan bahasa Roh secara sembarangan, menggosipkan seseorang yang berbahasa Roh, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, janganlah kita saling menghukum dan menghakimi. Penghakiman dan pembalasan adalah hak Tuhan. Kita sebagai manusia tidak memiliki hak untuk menghukum dan menghakimi. Manusia memiliki hak untuk menerima hukuman dan mendapat kasih dari Tuhan YESUS.

Tuhan YESUS memberkati.

Rabu, 04 November 2009

Bikin Hukuman Sendiri

Yah, inilah para manusia pada akhir zaman (sebenarnya tidak hanya di akhir zaman, dulu juga sering. Hahahahaha...), terutama para guru. Pada saat muridnya berbuat salah, langsung diberi hadiah (hukuman maksudnya). Sudah tahu muridnya meminta maaf dan memberikan alasan yang jelas dan masuk akal, guru itu tetap menghukum muridnya (saking keras kepalanya). Akhirnya, murid itu bersedia menerima hukuman dari guru tersebut (yah, semacam saya inilah).

Saya bingung, kenapa banyak orang yang suka sekali membuat hukuman sendiri, bukannya menerapkan kasih terhadap orang lain? Giliran kasih hukuman aja cepet, tau-taunya, maafin seseorang aja ga becus sama sekali.

Oleh karena itu, terapkanlah kasih dalam kehidupan sedetik-detik. Inilah waktu-waktu terakhir, jangan bikin runyam, jangan dipengaruhi oleh orang dunia yang mau seenaknya aja (sebab kita bukan orang dunia lagi. Roma 12 : 2).